Selasa, April 28, 2026
Akses Nusantara
kosong
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Komunitas
  • TNI – POLRI
  • Prestasi
  • Suara Milenial
  • Top News
  • Nasional
  • Beranda
  • Daerah
  • Komunitas
  • TNI – POLRI
  • Prestasi
  • Suara Milenial
  • Top News
  • Nasional
kosong
View All Result
Akses Nusantara
kosong
View All Result
Home Nasional

Selat Malaka Jalur Perdagqmgan Dunia yang Terlalu Lama Kita Biarkan Berlalu

Ditulis Oleh Redaksi 3
28 April 2026
arsip Nasional
Selat Malaka Jalur Perdagqmgan Dunia yang Terlalu Lama Kita Biarkan Berlalu
Share on FacebookShare on Twitter

Selat Malaka Jalur Perdagqmgan Dunia yang Terlalu Lama Kita Biarkan Berlalu

FKBN, aksesmusantarq.id – Di peta dunia, Selat Malaka tampak seperti garis sempit di antara Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Namun dalam realitas global, ia adalah denyut nadi perdagangan internasional, jalur yang menghidupi industri, menggerakkan energi, dan menentukan stabilitas ekonomi kawasan Asia. Ironisnya, di tengah peran sebesar itu, Indonesia kerap terlihat seperti penonton di halaman rumahnya sendiri.

Data terbaru mempertegas betapa vitalnya selat ini. Sepanjang tahun 2025, lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka naik signifikan dari 94.300 kapal pada 2024.

Lebih mencengangkan lagi, jalur ini mengangkut sekitar 23,2 juta barel minyak per hari, setara dengan sekitar 22–29% perdagangan minyak dunia.

BERITA TERKAIT

Semangat Keadilan Ekologis, GMNI Unisla Lamongan Tanam Pohon Bersama

MUSCAB X PPP Sampang Tegaskan Konsolidasi Total: Siap Menangkan Agenda Rakyat dan Rebut Kepercayaan Publik

Artinya, hampir sepertiga energi global melewati satu jalur sempit yang juga berbatasan langsung dengan Indonesia.

Bahkan dalam konteks logistik global, Selat Malaka menangani sekitar 80 juta TEUs kargo per tahun, angka yang menunjukkan betapa massifnya arus barang dunia yang melintas di wilayah ini.

Namun pertanyaannya tetap sama: di mana posisi Indonesia dalam arus raksasa ini?

Selama ini, kita terlalu nyaman dengan narasi “letak strategis” tanpa keberanian untuk mengubahnya menjadi kekuatan nyata. Letak geografis bukanlah prestasi, ia adalah potensi. Dan potensi yang tidak dikelola hanya akan menjadi statistik yang menguntungkan pihak lain.

Lihat realitasnya: dari puluhan juta kontainer yang melintas, sebagian besar justru dikelola oleh pelabuhan negara lain. Sementara itu, kapasitas pelabuhan Indonesia masih jauh tertinggal. Ini bukan sekadar ketimpangan ekonomi, tetapi kegagalan membaca momentum sejarah.

Lebih dari itu, Selat Malaka juga merupakan ruang kontestasi geopolitik. Ketergantungan besar China terhadap jalur ini melahirkan istilah “Malacca Dilemma,” sebuah kekhawatiran strategis atas potensi gangguan distribusi energi. Dalam konteks ini, Selat Malaka bukan hanya jalur perdagangan, tetapi titik tekan kekuasaan global.

Namun di balik besarnya nilai ekonomi, ancaman nyata juga tidak kecil. Kasus pencurian ikan dan aktivitas ilegal di perairan ini masih terjadi, bahkan menimbulkan kerugian negara hingga triliunan rupiah.

Belum lagi risiko pencemaran laut akibat lalu lintas kapal yang sangat padat.

Di sinilah ironi itu terasa paling tajam. Selat Malaka adalah jalur yang menghidupi dunia, tetapi belum sepenuhnya menghidupi kita.

Wacana pemerintah untuk mengenakan tarif bagi kapal yang melintas sebenarnya menunjukkan satu hal: ada kesadaran bahwa posisi strategis ini selama ini belum dimanfaatkan optimal. Namun kebijakan tanpa kesiapan justru berisiko memicu resistensi regional tanpa menghasilkan keuntungan nyata.

Indonesia tidak kekurangan peluang. Yang kurang adalah keberanian untuk bertindak konsisten dan berpikir jangka panjang.

Selat Malaka bukan sekadar jalur laut internasional, ia adalah aset strategis nasional yang selama ini dibiarkan mengalir tanpa arah kepentingan yang jelas.

Jika lebih dari 100 ribu kapal bisa melintas setiap tahun, jika puluhan juta barel minyak mengalir setiap hari, jika hampir sepertiga energi dunia bergantung pada jalur ini, maka tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tetap berada di pinggir permainan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang Selat Malaka bukan hanya soal ekonomi atau geopolitik. Ia adalah cermin dari cara kita memandang diri sendiri sebagai bangsa maritim.

Apakah kita akan terus menjadi jalur yang dilalui?

Atau akhirnya berani menjadi kekuatan yang menentukan?

Jika jawabannya adalah yang kedua, maka satu hal harus ditegaskan:

kedaulatan tidak cukup dijaga, ia harus dimonetisasi, dikelola, dan dimenangkan. (Red)

Tags: Selat Malaka Jalur Perdagqmgan Dunia yang Terlalu Lama Kita Biarkan Berlalu
SendShareTweet
Previous Post

Pembangunan Rumah Terus Digenjot, Satgas TMMD Kodim 1710/Mimika Kejar Target Penyelesaian

Next Post

Dua Dekade Otonomi daerah: Lamongan di Persimpangan Perubahan

BERITA TERKAIT

Semangat Keadilan Ekologis, GMNI Unisla Lamongan Tanam Pohon Bersama
Event

Semangat Keadilan Ekologis, GMNI Unisla Lamongan Tanam Pohon Bersama

24 April 2026
MUSCAB X PPP Sampang Tegaskan Konsolidasi Total: Siap Menangkan Agenda Rakyat dan Rebut Kepercayaan Publik
Nasional

MUSCAB X PPP Sampang Tegaskan Konsolidasi Total: Siap Menangkan Agenda Rakyat dan Rebut Kepercayaan Publik

21 April 2026
Rekrutmen Nasional Dibuka, SDM Disiapkan untuk Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Puti
Nasional

Rekrutmen Nasional Dibuka, SDM Disiapkan untuk Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Puti

20 April 2026
FKBN Gelar Halalbihalal, Dorong Penguatan Organisasi Berbasis Nilai Pancasila
FKBN

FKBN Gelar Halalbihalal, Dorong Penguatan Organisasi Berbasis Nilai Pancasila

11 April 2026
Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian
Nasional

Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian

7 April 2026
RSUD Dr. Soegiri Luncurkan GEMES, Perkuat Layanan Prima
Kesehatan

RSUD Dr. Soegiri Luncurkan GEMES, Perkuat Layanan Prima

7 April 2026

Hari Nasional : HPN 2026

Ramadhan 2026 :

Info :

Promotion :

BERITA TERKAIT

Kehadiran Personel Satgas Pamtas 726, Meriahkan Hari Ulang Tahun Distrik Eligobel Yang Ke 21

Kehadiran Personel Satgas Pamtas 726, Meriahkan Hari Ulang Tahun Distrik Eligobel Yang Ke 21

3 Maret 2024
Perwira Psikologi TNI Beri Pelatihan Kesehatan Mental Kepada Personel Pemeliharaan Perdamaian di Lebanon

Perwira Psikologi TNI Beri Pelatihan Kesehatan Mental Kepada Personel Pemeliharaan Perdamaian di Lebanon

21 Februari 2025
Komsos Dengan Petani, Babinsa Kuala Kencana Beri Motivasi Kepada Petani Nanas

Komsos Dengan Petani, Babinsa Kuala Kencana Beri Motivasi Kepada Petani Nanas

4 Mei 2024
Panglima TNI Terima Paparan Kepala Pusat Keuangan TNI Terkait Modernisasi Pasukan PBB

Panglima TNI Terima Paparan Kepala Pusat Keuangan TNI Terkait Modernisasi Pasukan PBB

18 Juni 2023
Asrenum Panglima TNI Buka Bimtek Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI

Asrenum Panglima TNI Buka Bimtek Penyusunan dan Penerbitan Doktrin di Lingkungan TNI

9 Oktober 2024
Load More

Media Bela Negara :

UMKM Bela Negara :

Akses Nusantara

Aksesnusantara.id ©2021

Navigate Site

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kebijakan Privasi

Follow Us

kosong
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Komunitas
  • TNI – POLRI
  • Prestasi
  • Suara Milenial
  • Top News
  • Nasional
  • Login

Aksesnusantara.id ©2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In