Beras Terapan Organik Bela Negara, Wujud Patriotisme dan Pertanian Ramah Lingkungan.
Lamongan,Aksesnusantara.id – Di tengah hiruk-pikuk industri pertanian modern yang kerap bergantung pada input kimia, sekelompok patriot di Lamongan menawarkan sebuah jalan kembali kepada harmoni alam. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam nilai-nilai. Hasilnya adalah Beras Terapan Organik Bela Negara, sebuah produk pangan yang menjadi simbol perpaduan antara cinta tanah air, kepedulian lingkungan, dan komitmen terhadap kesehatan masyarakat. Inisiatif yang berakar di Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat, ini membuktikan bahwa semangat bela negara dapat diwujudkan bukan hanya di medan tempur, tetapi juga di hamparan sawah yang hijau. Senin, (29/12/25).
Lebih dari Sekadar Beras: Sebuah Filosofi yang Tumbuh dari Tanah.
Beras Terapan Organik Bela Negara, seperti namanya, memiliki makna yang dalam. “Terapan” merujuk pada penerapan ilmu pertanian organik yang murni. “Organik” adalah komitmen mutlak pada proses alami, bebas dari rekayasa pupuk dan pestisida kimia sintetis. Sementara “Bela Negara” adalah jiwa yang mendasarinya sebuah keyakinan bahwa menjaga kedaulatan pangan dan melestarikan lingkungan adalah bagian integral dari membela kedaulatan bangsa.
Produk ini dibudidayakan dengan ketat di bawah standar pertanian organik. Petani yang terlibat, dengan penuh kesabaran, mengembalikan siklus alamiah ekosistem sawah. Mereka menggantikan pupuk urea dan pestisida kimia dengan kompos alami, pupuk kandang, dan pestisida nabati yang di racik sendiri dari bahan-bahan alami seperti mimba, gadung, atau tembakau. Pengendalian hama dilakukan secara manual atau dengan memanfaatkan musuh alami, menciptakan sebuah keseimbangan ekologi yang berkelanjutan.
“Praktik ini seperti menyembuhkan tanah yang sudah lama ‘sakit’ karena bahan kimia. Kita harus mengembalikan kehidupan mikroorganisme yang ada di dalamnya. Hasilnya mungkin tidak instan, panen mungkin tidak seberapa banyak di awal, tapi yang kita tanam adalah keberlanjutan untuk anak cucu,” tutur Abah Mustain, sang penggagas dan petani teladan di balik budidaya beras ini di Sumurgenuk, Babat, Kabupaten Lamongan.
Dampaknya multidimensi. Pertama, dari sisi kesehatan, beras organik bebas dari residu bahan kimia berbahaya, memiliki kandungan gizi yang lebih utuh, dan rasa yang lebih alami. Kedua, bagi lingkungan, praktik ini mencegah pencemaran air tanah dan sungai, menjaga biodiversitas (seperti populasi burung dan ikan di sawah), serta meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Ketiga, secara ekonomi, meski memerlukan tenaga lebih, sistem ini mengurangi ketergantungan petani pada perusahaan agrokimia, membuka peluang harga jual premium, dan membangun kemandirian lokal.
FKBN Lamongan: Mempopulerkan Nilai Bela Negara dari Ladang ke Masyarakat.
Jika Abah Mustain adalah arsitek di lapangan, maka Forum Kader Bela Negara (FKBN) Kabupaten Lamongan berperan sebagai penyambung lidah dan penggerak sosialisasi. FKBN, sebagai wadah yang menaungi para kader dengan semangat kebangsaan, melihat inovasi pertanian organik ini sebagai medium bela negara yang konkret dan aplikatif.
“Bela negara tidak melulu tentang wawasan kebangsaan di kelas atau pelatihan baris-berbaris. Bela negara yang hakiki adalah ketika kita mampu memastikan bangsa ini mandiri pangannya, sehat rakyatnya, dan lestari alamnya. Beras Terapan Organik ini adalah senjata kita,” jelas Saifudin Zuhri, Kepala Sub. Bagian Agro Industri, Pertanian, Perikanan dan Peternakan FKBN Lamongan.
FKBN aktif mempopulerkan produk ini melalui berbagai kanal. Mengorganisir kunjungan ke lahan percontohan di Sumurgenuk dan Sumberwudi Turi, mengadakan diskusi tentang pertanian berkelanjutan, dan membangun jaringan pemasaran yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen peduli.
Upaya ini bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa setiap butir nasi organik yang dikonsumsi adalah sebuah pilihan politik pangan pilihan untuk mendukung petani lokal, melindungi lingkungan, dan mengamalkan semangat cinta tanah air dalam keseharian.
Tantangan dan Masa Depan: Menjaga Konsistensi dan Memperluas Dampak.
Jalan menuju pertanian organik penuh bukan tanpa rintangan. Tantangan terbesar adalah mentalitas “instan”. Transisi dari sistem konvensional ke organik membutuhkan waktu (biasanya 2-3 tahun masa konversi) sebelum tanah benar-benar pulih dan hasil stabil. Selama itu, produktivitas bisa menurun, yang kerap membuat petani gentar. Selain itu, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih intensif, dan sertifikasi terapan pertanian Full organik yang kerapkali di nilai berbiaya tinggi masih menjadi penghalang bagi banyak petani kecil, padahal asumsi itu terpatahkan dan bisa lebih ekonomis jika petani menerapkan sistem Terapan Organik dengan membuat nutrisi dan pupuknya sendiri dari bahan alami.
FKBN Lamongan melihat ini sebagai perjuangan jangka panjang. Mereka berpegang pada prinsip bahwa nilai yang dibangun lebih berharga daripada keuntungan cepat. Untuk menghadapi tantangan pemasaran, mereka mengandalkan cerita di balik beras (storytelling) menjual bukan hanya produk, tetapi juga filosofi, perjuangan Abah mustain, dan kontribusi pada lingkungan. Pendekatan ini menarik segmen konsumen edukatif yang semakin melek kesehatan dan lingkungan.
Ke depan, visi mereka adalah menciptakan model yang bisa direplikasi. “Kami ingin Sumurgenuk menjadi desa percontohan Terapan Organik bagi Indonesia. Dari sini, kami harap semangat dan tekniknya menular ke desa-desa lain di Lamongan. Bayangkan jika semua sawah di Lamongan berproduksi secara organik, betapa besar dampaknya bagi kesehatan masyarakat di masa depan,” harap Ferry Fadli Kepala FKBN Kabupaten Lamongan.
Beras Terapan Organik Bela Negara dari Lamongan pada akhirnya lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah manifestasi dari sebuah gerakan sosial-ekologi yang menyatukan kecintaan pada ilmu pertanian tradisional yang arif, kesadaran lingkungan modern, dan semangat nasionalisme yang hidup. Setiap tumpukan gabah yang dihasilkan adalah testament bahwa membela negeri bisa dimulai dari pilihan paling dasar, bagaimana kita memperlakukan sejengkal tanah dan apa yang kita tanam untuk dihidangkan di atas piring nasi seluruh keluarga Indonesia. Inilah bela negara yang sesungguhnya yang tidak bersuara keras, tetapi tumbuh subur dan memberi kehidupan. (**FKBN/Red)

















